Review: Borgman (2014)

Bisa jadi, Borgman merupakan satu-satunya film yang membuat saya berpikir sangat keras tahun ini. Masalah tidak datang dari film yang digawangi oleh Alex van Warmerdam ini. Akan tetapi, saya berusaha mengorek sedalam mungkin dari berbagai sumber di Internet atas apa sebenarnya disajikan oleh sang sutradara ke hadapan saya. Jelas, Borgman bukanlah sebuah kreasi yang didesain untuk dinikmati khalayak ramai, melainkan sukses membius mereka para penggila film-film bertema arthouse.
Film yang bisa disebut sebagai home-invasion thriller ini mengisahkan tentang seorang pengembara bernama Camiel Borgman (Jan Bijvoet) yang harus pindah dari “rumahnya” ke rumah baru. Pada bagian introduksi telah dijelaskan (meskipun tidak secara detail mengapa) bahwa ia harus lari dari kejaran beberapa orang bersenjata. Di tengah jalan, Camiel, secara sengaja atau tidak, bertamu ke rumah keluarga kaya yang terlihat diisi oleh individu-individu dengan dosis arogansi membumbung. Dari situlah, “permainan” dimulai.
Sebagian besar film lain mengumbar banyak petunjuk bagi kamu, tetapi tidak untuk Borgman. Kamu seolah dituntut untuk berpikir lebih kritis atas apa yang sedang terjadi di rumah tersebut. Ia tidak menabur tema good vs. evil, tetapi bermain di ranah pirau; tidak bias. Di dalamnya, Camiel tampil seperti sebuah virus yang menginfeksi siapapun, dan tidak akan pernah bisa terobati. Sehingga, sanggup mengobrak-abrik psikologis terdalammu.
Tidak mungkin ada simpati yang pantas disematkan ke dalam karakter Camiel. Saya yakin itu. Namun, sebagai sebuah padanan drama-thriller yang terbit tahun ini, Borgman tidak boleh terlewatkan. Ia menyeruak perlahan, tetapi tak akan mudah terlupakan.








































