Review - The Raid 2: Berandal (2014)

by -
2

The-Raid-2-Reviews-Berandal

Dalam salah satu wawancara, Gareth Evans mengatakan bahwa seringkali dalam proses syuting, dirinya mendapati satu shot yang sama persis seperti yang ada di bayangannya. Sebuah shot yang sempurna, bisa dikatakan seperti itu. Namun, biasanya shot ini justru berakhir di ruang editing, dan shot lain justru muncul sebagai yang lebih baik dan berakhir di theater cut. The Raid 2: Berandal adalah shot yang selalu ada di bayangan Gareth Evans. Proyek impian nan ambisiusnya sejak lama. Seharusnya memulai produksi pasca Merantau, Berandal justru tertahan karena masalah budget, dan The Raid yang notabene adalah proyek cadangan justru berhasil memikat hati penonton. Meledak jauh dari yang mereka bayangkan. The Raid adalah shot yang lebih baik, yang tidak ada di bayangan Evans, namun berhasil bertahan hingga akhir.

Kira-kira begitulah pendapat saya bila harus mengadu The Raid pertama dengan kedua. Tidak, Berandal bukanlah film yang jelek. Jauh dari itu, bahkan saya berencana menontonnya beberapa kali lagi di bioskop. Ini adalah masalah selera, mana yang lebih cocok untuk kalian. Mana yang lebih baik di antara dua film yang sudah baik.

Berandal melanjutkan kisah 2 jam setelah kejadian di The Raid. Diceritakan kota ‘Jakarta’ rekaan Gareth Evans (lebih banyak tentang ini nanti) dikuasai oleh dua keluarga mafia kuat. Keluarga Bangun (Tio Pakusadewo) dan keluarga Goto (Kenichi Endo) dari Jepang. Rama (Iko Uwais) yang di awal terlihat menemui Bunawar (Cok Simbara), seorang polisi yang tergabung dalam sebuah organisasi pembasmi korupsi (seperti KPK), pun harus sadar bahwa aksi penyerbuan dan video pemberian kakaknya tidak berguna untuk menguak kejahatan yang ada. Rama harus melakukan jauh lebih dari itu. Ia harus masuk ke dalam kejahatan itu sendiri. Jadilah ia menyamar, masuk ke dalam penjara demi mendekati Uco (Arifin Putra), anak dari Bangun, dan perlahan-lahan membuka semuanya dari dalam.

The-Raid-2-Iko-Uwais

Bila The Raid terbatas dalam satu gedung dan langsung bak-bik-buk, The Raid 2 lebih santai. Beberapa menit awalnya dihabiskan untuk mengurusi loose thread dari film pertamanya sembari membangun fondasi cerita untuk sajian berdurasi 150 menit selanjutnya. Dengan editing non-linear di awal, Berandal terlihat jelas mengambil arahan yang berbeda dari seri sebelumnya. Jika yang pertama mengingatkan kita dengan Die Hard, yang satu ini lebih terasa The Departed/Godfather. Hanya sampai terasa, tidak sampai menyamainya, ya.

Sebuah keputusan yang tepat, untuk apa mengulang sesuatu yang sudah terlalu sakral untuk digubah? Karena ini nantinya hanya akan menjadi bumerang saja, nasib yang akan diterima oleh remake-nya. Ekspansi scope cerita serta karakter yang jauh lebih besar memberikan ruang lebih luas untuk cerita bernafas juga para aktornya untuk berkembang. Film ini adalah sekuel yang benar-benar sekuel, karena semuanya jauh lebih besar, improvement terlihat di mana-mana namun gagal menghibur lebih baik.

Salah satu hal yang membuat The Raid menjadi The Raid adalah kekurangannya. Lewat minimnya plot, The Raid berakhir benar-benar menghibur, tanpa basa-basi langsung berkelahi. Translasi skrip dari bahasa Inggris ke Indonesia yang kaku justru menghasilkan banyak dialog-dialog yang kita ingat hingga sekarang. “Nggak ada gregetnya” atau “Pangkat? Persetan dengan pangkat” adalah hal-hal yang tidak akan kalian temukan di sini. Bahkan saya berani bilang bahwa adegan action di sekuelnya tidak lebih memorable dari The Raid.

Begini, bila ditanya, mana momen paling memorable di film pertama, jawaban kalian bisa jadi sangat spesifik seperti Mad Dog berayun dan menjungkir balikkan karakter Donny Alamsyah atau saat Iko bersembunyi di balik tembok yang ditusuk-tusuk. Di Berandal, saya justru melihat jawaban menjadi lebih general seperti “Car Chase” atau “Kitchen Fight”. Ini entah membuktikan Evans jauh lebih sukses dalam meracik sebuah adegan atau terima saja faktanya bahwa adegan tersebut tidak memiliki momen yang benar-benar stand-out.

BjylMeWCQAEVIXe

Banyak sekali karakter-karakter baru yang dilempar di sini seperti Hammer Girl (Julie Estelle), Baseball Bat Man (Very Tri Yulisman), The Assassin (Cecep Arif Rahman), hingga Bejo (Alex Abbad). Namun mari kita jujur pada diri sendiri, tidak akan ada yang seikonik Mad Dog. Tidak juga Prakoso yang diperankan oleh Yayan ‘Mad Dog’ Ruhian sendiri. Mayoritas antagonis di sini tampil sangat komikal, dan tentunya akan mudah dicerna, but let’s face it, Mad Dog is just a perfect character.

Oke, saat ini mungkin kalian mengira saya membenci The Raid 2. Tidak. Seperti saya bilang, Berandal mengalami improvement dari segala aspek. Dari segi teknikalnya, sinematografinya jauh naik kelas. Penggunaan Red Camera menghasilkan gambar yang jauh lebih tajam serta warna tone filmnya yang lebih berwarna ketimbang The Raid yang abu-abu. Kameranya lebih atletis dalam menangkap pertarungan. Meliuk-liuk ke antara petarung adalah sesuatu yang lazim di sini.

Fight-nya juga jauh lebih bervariasi. Dari pertarungan skala besar di penjara hingga ke adegan kejar-kejaran mobil yang sukses membuat saya merinding adalah bukti tim The Raid sudah berkembang. Koreografinya tetaplah menjadi poin utama yang membedakannya dengan film action medioker Hollywood yang mengandalkan editing cepat. Dan jangan lupakan scoring dari trio Joseph Trapanese, Aria Prayogi, Fajar Yuskemal yang mengiringi film dan berperan membangun tensi.

Arifin-Putra-in-The-Raid-2-Berendal-2014-Movie-Image

Masuknya banyak aktor kawakan seperti Roy Marten hingga Pong Hardjatmo juga menaikkan level akting di film. Iko Uwais sendiri diberi ruang lebih untuk berekspresi. Dialog berbahasa Indonesia jauh lebih terasa natural meski tidak jarang saya masih sulit untuk menangkap kata-kata yang keluar dari mulut Iko. Dude, yang cepat berantemnya saja, jangan sampai ngomongnya juga begitu. Dan walau saya akan selalu ngefans dengan Julie Estelle, Arifin Putra-lah yang berakhir sebagai aktor terbaik di film ini. Arifin bahkan bisa dibilang menjadi aktor utama, andai saja Rama tidak diproyeksikan sebagai sang pahlawan. You root for him meski tahu perbuatannya salah.

Beberapa hal minor yang saya temukan diprotes di internet adalah salah satu adegan di mana muncul salju di tengah kota yang seharusnya adalah Jakarta. Bagi saya, ini adalah universe Merantau milik Evans. Tidak pernah secara spesifik ia mengatakan bahwa ini adalah Jakarta yang sama seperti yang kita punya sehari-hari. Di sini ada subway dan juga penjara berlumpur. No, kita nggak punya itu di Jakarta yang asli. Jadi, bukanlah hal yang salah bila Evans memutuskan menampilkan salju untuk alasan yang tentunya berhubungan dengan kemauan dia dalam menyetting nada sebuah adegan.

Dalam singkat kata, The Raid 2: Berandal mengalami banyak improvement dari segi teknikalnya. Gambar lebih bagus, suara yang lebih baik, bersamaan dengan dialog lebih natural lewat aktor-aktor topnya. Tapi bila kalian adalah penikmat genre ini, The Raid adalah sebuah film yang jauh lebih memuaskan, straight-to-the-point action. That being said, bring on The Raid 3!

Rating

  • jon

    iya, kmrn pas nonton lebih terasa kayaknya karakter utamanya si ucok. peningkatannya bagus sih, tp saya lebih enjoy yang pertama 😀

  • Bernhard Hustomo

    mnurut gw, salju cuma ada untuk ending dari scene itu aja, biar darahnya terlihat dramatis, seperti halnya di Django Unchained, haha. ternyata ampe diperdebatkan ya di internet, ga nyimak2 amat sih…

    adegan di lapangan terbang Kemayoran favorit gw

    overall, film ini superb